top of page
Search
Writer's pictureRedaksi Rekampuan

5 Penyakit dengan Resiko Tinggi bagi Perempuan


Sumber foto : freepik.com


Penyakit memang dapat menyerang siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Akan tetapi, banyak faktor dari dalam tubuh seseorang yang membuatnya lebih rentan terhadap suatu penyakit. Berdasarkan jurnal Kesehatan serta penelitian, beberapa penyakit nyatanya memiliiki resiko yang lebih tinggi bagi seorang perempuan. Inilah 5 penyakit yang memiliki resiko lebih tinggi terhadap perempuan.


1. Hepatitis


Hepatitis merupakan penyakit yang menyerang hati ataupun liver. Penyakit ini dapat disebabkan oileh infeksi virus ataupun gaya hidup yang kurang sehat. Kegiatan seperti merokok, menunda makan, makan-makanan yang kurang sehat, serta penggunaan obat-obatan dapat menyebabkan kerusakan pada hati.


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Centers for Disease Control and Protection, 1 dari 4 perempuan meninggal akibat hepatitis. Sementara itu, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa perempuan pengidap hepatitis semakin meningkat setiap tahunnya.


Kavitha Chinnaiyan, M.D., seorang kardiologis asal Beaumont, Texas mengatakan bahwa perbedaan biologis dari perempuan menjadi salah satu faktor perempuan lebih beresiko mengidap hepatitis. Selain itu, terdapat gejala yang berbeda dari pengidap hepatitis perempuan dan laki-laki.


“Perempuan cenderung memiliki gejala yang lebih samar - hanya lelah, tidak bisa mengatakan apa yang salah dengan mereka. Itu semua karena jantung tidak mendapatkan cukup oksigen, " ujar Chinnaiyan dikutip dari laman Beaumont.org.


2. Osteoartritis (Radang Sendi)


Osteoartritis atau radang sendi juga lebih beresiko dialami oleh perempuan ketimbang laki-laki. Osteoartritis merupakan penyakit yang sering menyerang sendir-sendi di lutut, tangan, dan punggung. Meski demikian, sendi lain juga tidak luput dari ancaman Osteoartritis.

Meski tidak berbahaya, namun penyakit ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Penyakit ini juga tidak dapat disembuhkan secara total. Beberapa perawatan yang dapat dilakukan hanya membantu untuk meredakan rasa sakit dan bersifat sementara.


Data dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyebutkan bahwa 1 dari 4 perempuan didiagnosis mengidap artritis, lebih banyak dibanding laki-laki yang hanya 1 dari 5 kasus. Hormon yang kerap kali berubah menjadi salah satu alasan mengapa perempuan lebih beresiko mengidap Osteoatritis.


Perubahan hormon tersebut tidak menyebabkan radang sendi secara langsung. Akan tetapi, perubahan hormon dapat menurunkan sistem imun yang bertugas untuk melindungi tubuh dari penyakit.



Dikutip dari halodoc.com, diagnosis osteoartritis diawali dengan menanyakan gejala dan pemeriksaan fisik pada sendi yang terserang. Selanjutnya, dokter akan memeriksa pembengkakan serta melakukan foto rontgen untuk melihat kondisi sendi. Foto rontgen juga dilakukan untuk melihat apakah terjadi kerusakan lain.


Meski tidak dapat disembuhkan, penurunan berat badan serta konsumsi obat pereda sakit dapat mengurangi rasa sakit pada sendi yang meradang. Jika rasa sakit masih ada dan tak kunjung membaik, operasi menjadi opsi terakhir dari pengidap Osteoartitis.


3. Sexually Transmitted Disease/STD (Penyakit Menular Seksual/PMS)


Ketika melakukan hubungan badan tanpa menggunakan pengaman, baik laki-laki dan perempuan memiliki resiko terkena penyakit STD. Akan tetapi, perempuan memiliki resiko yang lebih tinggi dibanding laki-laki. Hal tersebut dikarenakan bentuk anatomi dari kelamin perempuan yang lebih terekspos.


Menurut laporan November 2015 yang dirilis oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kasus klamidia, gonore, dan sifilis yang dilaporkan telah meningkat untuk pertama kalinya sejak 2006. Angka perempuan pengidap ketiga penyakit tersebut juga melonjak.


Peran gender juga memiliki pengaruh terhadap peningkatan resiko bagi perempuan. Laki-laki kadang memaksa untuk melakukan hubungan tanpa menggunakan alat pengaman. Selain itu, budaya seks bebas dan rasa aman yang palsu dari kehadiran pil kb juga menjadi alasan angka perempuan pengidap STD kian bertambah.


Ada beberapa cara untuk mencegah penyebaran SDT. Cara pertama adalah dengan melakukan seks aman. Singkatnya, gunakan kondom — dan gunakan dengan benar. Bentuk kontrasepsi lain seperti pil kb tidak mencegah penularan STD. Jadi, laki-laki harus memakai kondom secara konsisten dengan pasangan.


4. Hipertensi


Hipertensi atau darah tinggi merupakan penyakit yang menyerang sirkulasi darah dan juga jantung. Pengidap hipertensi akan mengalami gejala berupa Sakit kepala, lemas. Masalah dalam penglihatan, nyeri dada, sesak napas, aritmia, serta adanya darah dalam urine.

Hipertensi memiliki ambang batas tekanan darah yaitu 140/90. Penyakit ini tergolong umum dan dialami oleh 2 juta orang setiap tahunnya di Indonesia. Meski demikian, perempuan memiliki resiko 2 kali lebih besar disbanding dengan laki-laki.


Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Persatuan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Dr dr Ismoyo Sunu SpJP (K), FIHA. Dilansir dari health.detik.com, ia mengatakan bahwa hipertensi dapat disebabkan oleh masalah hormonal yang sering terjadi pada perempuan.


"Keseimbangan hormon progesteron dan estrogennya kan lebih banyak hormon progesteronnya ya, yang memberikan suatu dugaan bahwa hormon ini menyebabkan tekanan darah tinggi,” ujar dr Ismoyo dilansir dari health.detik.com.


Selain itu, penggunaan pil kb juga meningkatkan resiko hipertensi bagi perempuan. Hal tersebut dikarenakan efek dari penggunaan pil kb yang menganggu proses pembentukan hormon estrogen dan progesterone.


Perempuan yang lebih rentan untuk mengidap stres juga menjadi salah satu alasan mengapa perempuan memiliki resiko lebih tinggi. Dalam studi yang telah dilaporkan dalam jurnal Molecular Psychiatry menyebut bahwa sel-sel otak perempuan lebih peka terhadap hormon stres yang disebut Corticotropinreleasing Factor (CRF). Akibatnya perempuan lebih mungkin untuk stres dua kali lipat daripada laki-laki yang berujung juga pada risiko hipertensi.


5. Alzheimer


Alzheimer merupakan penyakit otak yang mengakibatkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir dan bicara, serta perubahan perilaku secara bertahap. Penyakit ini didominasi oleh perempuan dengan rasio sebesar 66 persen. Angka ini diambil dari penelitian yang dilakukan oleh Alzheimer Association.


Alzheimer sendiri memiliki beberapa gejala di tingkat awal maupun lanjut. Pada tahap awal, penderita penyakit Alzheimer akan mengalami gangguan daya ingat yang sifatnya ringan, seperti lupa nama benda atau tempat, serta lupa kejadian atau isi percakapan yang belum lama terjadi.


Gejala tersebut akan terus berlanjut hingga tahap dimana nderita penyakit Alzheimer sulit bicara atau menjelaskan suatu hal, sulit untuk merencanakan sesuatu, sulit membuat keputusan, kerap terlihat bingung, serta mengalami perubahan kepribadian.


Perempuan usia lanjut lebih beresiko mengidap penyakit Alzheimer di karena di masa muda, perempuan menghasilkan hormon estrogen yang bisa melindungi otak. Ketidakhadiran hormone tersebut saat menopause menyebabkan otak menjadi rapuh dan mudah terserang penyakit.


Penyakit yang tergolong sangat umum ini tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Meski demikian, pemberian obat-obatan seperti rivastigmine dan psikoterapi dapat digunakan untuk menstimulasi dan merelaksasi otak pasien. Gaya hidup sehat dan menghindari asap rokok juga dapat membantu perempuan terbebas dari ancaman Alzheimer di usia senja.


Penulis : Mohamad Rizky Fabian

Editor : Annisya Asri


6 views0 comments

Recent Posts

See All

Comentarios


bottom of page